Tuesday, April 7, 2015

Sepuluh Keutamaan Ilmu



Suatu ketika, kaum Khawarij mendengar sabda Nabi Muhammad saw. :
انامدينةالعلم و عليّ بابها
“Aku adalah kota ilmu, dan Ali gerbangnya.”
Melihat kenyataan tersebut, mereka tidak mau menerimanya. Lalu berkumpullah para tokoh Khawarij untuk membuktikan hal tersebut.
“Kita tanyakan saja kepada Ali, sepuluh pertanyaan yang sama. Jika dia memberikan alasan yang berbeda, maka benarlah apa yang dikatakan Nabi,” usul seorang tokoh.
Mereka kemudian mendatangi Sayyidina Ali secara bergilir dan melontarkan pertanyaan yang sama : “Lebih utama mana ilmu atau harta?”
Sayyidina Ali pun, selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama: ilmu. Akan tetapi dengan alasan berbeda.
Kepada penanya pertama, ia menjelaskan ilmu warisan para nabi, harta merupakan warisan Qarun, Fir’aun dan lainnya.
“Ilmu menjagamu, sedang harta kamulah yang menjaganya,” terangnya kepada penanya kedua.
“Pemilik ilmu sahabatnya banyak, pemilik harta musuhnya banyak.
“Ilmu akan bertambah jikau kau pergunakan. Harta akan berkurang jika kau gunakan.”:
Kepada orang kelima dijawabnya, ”Pemilik ilmu akan dohormati dan dimuliakan. Pemilik harta akan ada yang menjulukinya si pelit.
“Harta perlu dijaga dari pencuri, ilmu tidak perlu menjaganya.
“Pemilik harta pada hari Kiamat akan dimintai tanggung jawab. Pemilik ilmu akan menadapat syafaat.
“Ketika dibiarkan dalam waktu yang lama harta akan rusak. Sedangkan ilmu tak akan musnah dan lenyap.
“Harta membuat hati jadi keras. Ilmu menjadi penerang hati.
“Pemilik harta akan dipanggil Tuan Besar. Pemilik ilmu akan dijuluki ilmuan. Andaikata kalian hidupkan banyak orang, maka aku akan menjawabnya dengan jawaban berbeda, selagi aku masih hidup,” tegas Sayyidina Ali kepada penanya terakhir.
Dan akhirnya, mereka pun kembali dalam pengakuan Islam.

(Ajie Najmuddin/ disarikan dari kitab al-Mawaidhu al-Ushfuriyyah karya Syeikh Muhammad bin Abu Bakar)
Sumber: nu.or.id

Keteladanan Muthi’ah, Pelajaran bagi Sayyidah Fatimah

Nabi Muhammad  SAW mempunyai sahabat perempuan bernama Muthi’ah yang sangat taat pada suaminya. Setiap hari, Muthi’ah selalu mematuhi pesan suaminya yang pergi bekerja hingga sore supaya tidak menerima tamu laki-laki.

Melihat ketaatannya pada suami, Nabi Muhammad sangat kagum terhadap sikap Muthi’ah sehari-hari. Seringkali Nabi Muhammad menasehati putrinya Fatimah supaya meniru keteladanan Muthi’ah dalam kehidupan keluarganya.

Suatu hari, Nabi Muhammad berkunjung ke rumah putrinya Fatimah. Nabi Muhammad merasakan sepertinya telah terjadi gesekan antara Fatimah dengan suaminya, Ali Bin Abi Thalib. Sebab, Ali tidak ada di rumah sedang Fatimah kelihatan sedikit murung.

Kemudian Nabi Muhammad mengundang Ali yang sedang menyendiri di masjid untuk mengklarifikasi permasalahan keluarganya. Setelah mendengarkan cerita Ali, Nabi berkesimpulan Fatimah penyebab munculnya permasalahan. Nabi lalu menesahati putrinya supaya sekali-kali berkunjung ke rumah Muthi’ah.

Esok harinya, Fatimah ke rumah Muthi’ah dengan membawa anak kecil  laki-laki berumur tiga tahun. Ketika mengetuk pintu, Muthi’ah bertanya,”siapa itu?

“Saya Fatimah, Muthi’ah,” jawab putri Nabi.

“Sama siapa,?” tanya Muthiah lagi.  Fatimah pun menyahut. “Saya bersama anak kecil laki-laki.”

 Karena ingat pesen suaminya tidak boleh menemui tamu laki-laki, Muthi’ah melarang Fatimah membawa anak kecil tadi. Seketika pula Fatimah memulangkan anak tadi dan kembali lagi ke rumah Muthi’ah.

Ketika masuk rumah Muthi’ah , di depan pintu sudah tersedia meja kursi, sementara  di atas pintu terdapat gantungan pakaian, handuk dan menjalin (rotan). “Kamu kok menyediakan barang-barang itu buat apa?” tanya putri Nabi.

“Semua ini untuk menyambut suamiku pulang kerja. Meja kursi untuk istirahat, handuk untuk membasuh keringat suamiku, gantungan buat menaruh bajunya,” jawab Muthi’ah.

“Lalu, rotan itu buat apa?” ujar Fatimah bertanya lagi.

“Sebagai upaya terakhir, bila suami merasakan kurang terlayani saya dengan baik, supaya rotan ini bisa digunakan untuk mencambuk diriku,” jawab Muthi’ah menjelaskan.

Mendengar jawaban tersebut, spontan Fatimah langsung membalikkan badan lari sambil menangis pulang. Dalam hatinya berpikiran menyesali sambil berucap, “apa mungkin saya bisa seperti Muthi’ah?”.

Di sinilah, Muthi’ah adalah sosok perempuan yang mampu menjadi contoh keteladanan  bagi istri istri yang shalihah. (Qomarul Adib)

*) Disarikan dari kisah yang disampaikan KH Sya’roni Ahmadi pada pengajian rutin Tafsir Al Qur’an di Masjid Menara Kudus

Sumber: nu.or.id

Seleksi Menantu ala Khalifah Umar bin Khattab

Pada suatu malam Khalifah Umar bin Khattab melakukan “blusukan” dengan ditemani ajudannya. Di tengah-tengah blusukan itu, Umar pun merasakan lelah sehingga memutuskan untuk beristirahat.

Saat Khalifah dan ajudannya beristirahat, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan anak gadisnya.

“Wahai anakku, oploslah susu yang kamu perah tadi dengan air,” perintah seorang ibu.

Lalu, si gadis menolak perintah ibunya dengan mengatakan, “Apakah Ibu tidak pernah mendengar perintah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab kepada rakyatnya untuk tidak menjual susu yang dicampur air?”

“Iya, Ibu pernah mendengar perintah tersebut,” jawab sang ibu.

Kemudian ibunya berkilah, “Mana Khalifah? Apakah dia melihat kita? Ayolah anakku laksanakan perintah ibumu ini, kan cuma sedikit kok ngoplosnya!”

“Dia tidak melihat kita, tapi Rabb-nya melihat kita dan demi Allah saya tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan melanggar seruan Khalifah Umar untuk selama-lamanya” Gadis tersebut menolak dengan yakin dan tegas.

Setelah mendengar percakapan gadis dengan ibunya tersebut, Umar dan ajudannya langsung pulang. Sesampai di rumah, Umar bercerita tentang pengamalaman blusukan tadi malam dan meminta putranya, ‘Ashim bin Umar untuk menikahi gadis yang shalihah tersebut.

Dari pernikahan ‘Ashim dengan gadis tersebut, Umar dikaruniai cucu permpuan bernama Laila atau yang biasa disebut Ummu Ashim dan dari Ummu Ashim telahir Umar bin Abdul Aziz khalifah kelima yang terkenal sangat adil, zuhud, dan bijaksana. (Ahmad Rosyidi)

*) Dinukil dari Kitab Hikayatu Islamiyyah Qabla an-Naum, Karya Najwa Husain Abdul Aziz, Kairo: Maktabah  Ash-Shofa 2001

Kisah Ulama 15 Tahun Pura-pura Tuli

Hatim Al-Asham merupakan salah seorang ulama besar yang wafat di Baghdad, Irak tahun 852 M atau 237 H. Terdapat sebuah kisah penuh hikmah yang mendasari kata ‘al-asham’, berarti tuli, yang menjadi julukannya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ghazali dalam kitab Nashaihul Ibad.

Sejatinya Hatim tidak-lah tuli, hingga pada suatu hari, seorang wanita datang ke tempat Hatim untuk menanyakan sesuatu. Tak dinyana, ketika melontarkan pertanyaannya di hadapan Hatim, belum selesai ia bertanya, wanita tadi tak kuasa untuk menahan kentutnya.

Bunyinya terdengar jelas, hingga membuat ia salah tingkah dan terdiam. Di tengah kegalauan wanita itu, tiba-tiba Hatim berkata dengan suara keras.

“Tolong bicara yang keras! Saya tuli,”

Namun, yang bertanya justru bingung. Dalam kebingungannya, ia kembali dikagetkan dengan suara keras Hatim.

“Hai, keraskanlah suaramu, karena aku tidak mendengar apa yang kamu bicarakan,” teriak Hatim.

Wanita tadi kemudian menduga bahwa Hatim ini seorang yang tuli. Ia pun merasa sedikit lega, karena suara kentutnya tidak didengar Hatim. Suasana kembali menjadi cair. Ia pun kembali mengulang pertanyaannya.

Sejak saat itu, Hatim mendadak “menjadi tuli” dan bahkan ia melakukan hal tersebut selama wanita tadi masih hidup. Ya, demi menjaga perasaan dan kehormatan wanita itu, ia terus berpura-pura tuli selama 15 tahun. 

Sumber: nu.or.id

Hukum Tumbal Untuk Tolak Gangguan Makhluk Halus?

Seringkali kita mendapati gejala yang ditimbulkan oleh makhluk ghaib. Kalau tidak menakutkan, aktivitas mereka tidak jarang mengganggu hingga sesekali bahkan membunuh manusia. Manusia pun memiliki rupa-rupa cara dalam menanggapi gangguan ini mulai dari doa, ritual tertentu, hingga mengorbankan makhluk hidup lainnya (tumbal).

Islam sendiri tidak menutup mata atas kehadiran juga gangguan makhluk halus baik inisiatif sendiri atau dikendalikan oleh orang-orang yang dengki. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan sebagai berikut,

من ذبح تقربا لله تعالى لدفع شر الجن عنه لم يحرم، أو بقصدهم حرم

Siapa saja yang memotong (hewan) karena taqarrub kepada Allah dengan maksud menolak gangguan jin, maka dagingnya halal dimakan. Tetapi kalau jin-jin itu yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram.

Perihal keterangan di atas, Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalamI‘anatut Tholibin menerangkan,

)من ذبح ( أي شيأ من الإبل أو البقر أو الغنم ) تقربا لله تعالى ( أي بقصد التقرب والعبادة لله تعالى وحده ) لدفع شر الجن عنه ( علة الذبح أي الذبح تقربا لأجل أن الله سبحانه وتعالى يكفي الذابح شر الجن عنه ) لم يحرم ( أي ذبحه، وصارت ذبيحته مذكاة، لأن ذبحه لله لا لغيره ) أو بقصدهم حرم ( أي أو ذبح بقصد الجن لا تقربا إلى الله، حرم ذبحه، وصارت ذبيحته ميتة. بل إن قصد التقرب والعبادة للجن كفرـ كما مر فيما يذبح عند لقاء السلطان أو زيارة نحو ولي ـ.

(Siapa saja yang memotong [hewan]) seperti unta, sapi, atau kambing (karena taqarrub kepada Allah) yang diniatkan taqarrub dan ibadah kepada-Nya semata (dengan maksud menolak gangguan jin) sebagai dasar tindakan pemotongan hewan. Taqarrub dengan yakin bahwa Allah dapat melindungi pemotongnya dari gangguan jin, (maka daging) hewan sembelihan-(nya halal dimakan) hewan sembelihannya menjadi hewan qurban karena ditujukan kepada Allah, bukan selain-Nya.

(Tetapi kalau jin-jin itu) bukan Allah (yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram) karena tergolong daging bangkai. Bahkan, jika seseorang berniat taqarrub dan mengabdi pada jin, maka tindakannya terbilang kufur. Persis seperti yang sudah dibahas perihal penyembelihan hewan ketika berjumpa dengan penguasa atau berziarah menuju makam wali.

Nilai sebuah tindakan penumbalan dapat diukur dari niat pelakunya. Sementara hanya Allah SWT yang mengetahui niat-niat hamba-Nya. Perihal dicampuri dengan upacara-upacara atau tempat khusus yang menyertai penumbalan sejauh tidak mengandung maksiat seperti minum kandungan khamar atau perzinaan, hingga kini tidak ada keterangan syara’ yang melarang itu. Wallahul muwaffiq ila aqwamit thoriq. Wallahu A‘lam.
Sumber: nu.or.id

Sepuluh Faedah Menziarahi Makam Rasulullah SAW

Islam mengajurkan umatnya berziarah ke makam Rasulullah SAW di Madinah. Kalau menziarahi makam orang tua dan makam orang saleh dianjurkan, maka makam Rasul SAW lebih layak lagi untuk diziarahi. Kecuali mengingat kematian, ziarah kubur di makam ulama dan para wali terlebih lagi makam Nabi Muhammad SAW, berdaya guna untuk meraih berkah.
Rasulullah Saw sendiri menganjurkan umatnya untuk menziarahi makamnya di banyak hadits. Anjuran ini perlu untuk diamalkan mengingat beliau Saw tentunya lebih mengerti betapa tingginya kedudukan ziarah ke makam rasul.

Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam I‘anatut Tholibin mengatakan,

قال بعضهم: ولزائر قبر النبي صلى الله عليه وسلم عشر كرامات. إحداهن يعطى أرفع المراتب. الثانية يبلغ أسنى المطالب. الثالثة قضاء المآرب. الرابعة بذل المواهب. الخامسة الأمن من المعاطب. السادسة التطهير من المعايب. السابعة تسهيل المصاعب. الثامنة كفاية النوائب. التاسعة حس العواقب. العاشرة رحمة رب المشارق والمغارب

Sebagian ulama mengatakan bahwa orang yang menziarahi makam Rasulullah SAW berhak menerima 10 kehormatan dari Allah SWT. Pertama, akan diberikan derajat tertinggi di sisi Allah.Kedua, akan disampaikan pada cita-cita tertinggi. Ketiga, akan dipenuhi kebutuhannya. Keempat, akan diberikan banyak anugerah-Nya. Kelima, akan diselamatkan dari bencana. Keenam, akan dilindungi dari aib. Ketujuh, akan dimudahkan dalam kesulitan. Kedelapan, akan diringankan bebanmya dalam musibah. Kesembilan, dapat merasakan apa yang akan terjadi. Kesepuluh, akan mendapat limpahan rahmat Allah SWT.

Orang yang mampu menempuh perjalanan ke Madinah, selayaknya tidak melewatkan kesempatan untuk menziarahi makam Rasulullah Saw. Sayang sekali kalau melewatkan kesempatan emas tersebut mengingat banyak sekali keutamaan yang Allah sediakan untuk mereka yang menziarahi makam Rasul Saw.

Di samping itu, ziarah ke makam Nabi Muhammad Saw sudah menjadi hak beliau SAW terhadap umatnya bahkan segenap makhluq Allah. Dalam mengungkapkan betapa besarnya hak Rasulullah, seseorang yang berjalan melalui kepalanya menuju makam Rasul SAW dari tempat terjauh sekalipun, tetap tidak bisa membayar hak Rasulullah Saw. Allahumma sholli wa sallim wa barik ala Sayyidina Muhammadin shollallahu alaihi wa sallam. Wallahu a‘lam.
Sumber: nu.or.id

Monday, April 6, 2015

Kabar Alumni (II): Muda Berbudaya, Bertalenta, dan Visioner

Namanya Faturachaman Alputra Sudirman. Dia Pemuda yang terbilang muda, energik, cerdas, visioner dan mempunyai banyak talenta (sebut saja nyanyi, tari tilawah :-)). Tulisannya beberapa dimuat di Kompas, Kendari Pos dll. Anak muda ini adalah Lulusan Pasca Sarjana Hubungan Internasional UGM. Enam tahun yang lalu (tepatnya tahun 2007) dia berada di depan pintu gerbang Pondok Pesantren Al Mawaddah warrahamah, tiada lain dan tiada bukan untuk ditempa jiwa, raga dan akalnya untuk menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa. Admin punya kesempatan berharga untuk biasa berdiskusi ama beliau selama 2 tahun di jogja banyak sekali diskusi terarah dan bermutu. Sesi ini, admin ingin beberkan beberapa diskusi seputar beliau

Admin: Kanda Fatur, dimana ki lahir?

>Kendari 14 januari 1992..... (muda banget kan???)

Admin: Kemarin saya dapat info, anda sebagi utusan indonesia untuk pertukaran budaya selama 3 bulan di negara sakura, Nippon Jepang? Apa betul?

>Iya tepat sekali,, nama program tersebut ialah SSEAYP ( Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program) sebenarnya program ini tidak hanya dilaksanakan di Jepang tapi
juga dilaksanakan di Brunei Darussalam, Cambodia, Myanmar, dan Indonesia dengan durasi program selama 51 hari. promosi budaya hanya salah satu aspek kegiatan saja. aktivitas yang lain seperti Institutional Visit, Courtesy call, Interaction with local youth, Discussion Group, National day presentation, Voluntary activity, club activity, dan Home stay. namun yang tak kalah penting ialah output dari program ini yaitu memberikan konstribusi terhadap masyarakat
melalui kegiatan sosial pemberdayaan atau kami sebut PPA (post program activity)


Admin: Ada hal yang menarik tentang perbedaan ataupun kesamaan budaya kita dengan bangsa jepang?

>Kalau kesamaan kita sama-sama respect dengan orang tua, selain itu mereka juga ramah. beberapa perbedaan seperti budaya keteraturan mereka, tanggung jawab,displin, adil, etos kerja.

Admin: Sebgai duta budaya di dunia internasional, kira2 menurut anda budaya bumi mekongga harus dilestarikan??

>Saya rasa tidak hanya budaya bumi mekongga yang mesti dilestarikan tapi seluruh aset budaya indonesia perlu dilestariakn baik tangible maupun intangible seperti kesenian, pariwisata, kearifan lokal, dll. Karena menurut saya itulah salah satu keunggulan indonesia yang kaya  akan keberagaman budayanya.

Admin: Bagaimana tanggapan anda terhadap budaya kita yan berbau mistik?

>Budaya yang berbau mistik saya kira itulah salah satu keunikan dan kelebihan bahkan menjadi aset yang tak ternilai yang dimiliki bangsa kita, dan hal itu justru menarik bagi masyarakat diluar negeri seperti kegiatan ritual adat di tanah Toraja yang sakral yaitu Ma’nene. ritual tersebut untuk mengenang leluhur, saudara dan handai taulan yang sudah meninggal. ritual tersebut justru menarik bagi wisatawan internasional bahkan domestik untuk datang kesana, hal inipun secara tidak langsung memberikan konstribusi bagi pemasukan pariwisata di suatu daerah

Admin: Saya dapat info, skrng anda membawakan mata kuliah di Uniersitas Muhammadiyyah Malang, mata kuliah yang diajarkan apa ?

> Saya ngajar politik luar negeri indonesia

Admin: Jikalau ada hubungan, pasti ada hubungan budaya dan HI, apakah anda biasa membicarakan/menghubungkan konsep budaya dengan HI terhadap mahasiswa ta?

>ya, kadang-kadang saya membagi pengalaman saya tersebut dengan mahasiswa dan sekaligus mengaitkan dengan HI. bahwa program pertukaran pemuda tersebut dimana salah misinya
ialah memperomosikan indonesia merupakan salah satu bentuk diplomasi publik dengan menggunakan istrumen budaya yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai indonesia bahkan diharapkan akan tercipta imej positif bagi indonesia yang dapat memperkuat kerjasama internasional dan hubungan people to peopele selain itu diplomasi tersebut dilaksanakan oleh aktor diluar negara seprti individu (non state actor)